Menu

PENULIS (DB) PENULIS (DB) Author
Title: Festival Cisadane dan Naga-naga Cisadane
Author: PENULIS (DB)
Rating 5 of 5 Des:
Teks & Foto by  Riman Saputra PAKAR NUSANTARA, TANGERANG. Lomba perahu naga pada perayaan Peh Cun sudah mengakar dan menjadi tradis...

Artikel Terkait Jalan-jalan

Ingin Punya Toko Online Sendiri? Daftar Sekarang | Lihat Demo

Dapatkan potongan Rp350.000 menginap di AirBnB : 3 Cara Mudah Booking Kamar di AirBnB | Voucher Diskon AirBnB
Teks & Foto by  Riman Saputra
PAKAR NUSANTARA, TANGERANG. Lomba perahu naga pada perayaan Peh Cun sudah mengakar dan menjadi tradisi. Lomba yang diadakan di Kali Cisadane ini diikuti empat kelompok tiap pertandingan yang beradu pacu menggunakan perahu naga mengarungi sungai sepanjang 500 meter.

Kali Cisadane mengalir melintasi Kota Tangerang. Bagi Kota Tangerang, sungai ini merupakan salah satu landmark kota yang sangat penting dalam catatan sejarah perkembangannya. Cisadane bahkan telah menjadi salah satu urat nadi penopang perekonomian sebagian warga. Dari perjalanan panjang tersebut lahirlah tradisi, seni, dan budaya adiluhung dengan berbagai nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya. 

Festival Cisadane yang diadakan setiap tahun di sepanjang Kali Cisadane ini sebenarnya bertujuan untuk memperingati hari raya Pe Liong Cun, atau lebih dikenal dengan Pe Cun. Jika di-Bahasa Indonesia-kan, Pe artinya mendayung, Liong yaitu naga, dan Cun adalah perahu. Jadi Pe Liong Cun artinya mendayung perahu naga, makanya lomba perahu naga menjadi inti festival ini. Namun di tahun 2015, Festival Cisadane diadakan lebih awal karena jatuhnya Pe Cun berbarengan dengan puasa. 

Asal Mula 
Munculnya tradisi lomba perahu naga tidak lepas dari kebudayaan sungai di Zaman Dinasti Ciu yang menurut buku Hari Raya Twan Yang (Hari Kehidupan) yang diterbitkan oleh perkumpulan keagamaan dan sosial Boen Tek Bio, tradisi lomba perahu naga berawal dari peristiwa di Sungai Bek Lo. Peristiwa ini mengisahkan seorang menteri tangguh dan berpengaruh, Qu Yuan, yang berhasil mempersatukan enam negeri ke dalam Negeri Cho untuk menyerang Negeri Chien. Namun Qu Yuan terusir dari negerinya karena sebaran fitnah dari orang-orang Negeri Chien. Setelah cukup lama, Ibukota Negeri Cho hancur dan Qu Yuan pun dipenuhi tangis kelu dan amarah bisu. Setelah sembahyang Twan Yang, Qu Yuan membacakan sajaknya “Li Sao” yang berarti “Jatuh Dalam Kesukaran” yang berisi curahan perasaan cinta terhadap tanah air dan rakyatnya di depan banyak orang. Selesai membacakan sajak, Qu Yuan pergi menggunakan perahu ke Sungai Bek Lo, menjauh dari keramaian lalu menceburkan diri ke dalam arus sungai yang mengalir deras. Pada tahun kedua perayaan Twan Yang, seorang nelayan membawa tempurung bambu berisi beras lalu menyebarkannya ke sungai sebagai bentuk penghormatan terhadap Qu Yuan. Pada tahun-tahun berikutnya, diadakan lomba perahu naga (Liong Cun) sebagai bentuk peringatan kembali atas usaha mencari jenazah Qu Yuan. 

Perahu Naga 
Saat sampai di lokasi festival, saya sudah disambut deretan tenda-tenda UKM hingga food truck dan para warga yang menantikan lomba perahu naga di kedua sisi Kali Cisadane mulai dari ujung jembatan Jalan Merdeka sampai Jalan Benteng Jaya. Saya pun sempat berbincang dengan seorang warga yang sudah puluhan tahun tinggal di sekitaran Kali Cisadane bahwa lomba perahu naga ini sudah ada sejak dia tinggal, entah sejak kapan tradisi lomba ini diadakan, yang pasti sudah sangat lama, katanya. Ia pun tetap setia menantikan lomba perahu naga hingga kini. 

Perahu naga sendiri adalah perahu dari kayu yang cukup panjang dengan ukiran kepala naga di kedua ujungnya dan didayung beramai-ramai. Dalam perayaan Pe Cun di Kali Cisadane, dalam satu pertandingan perahu naga diikuti empat kelompok. Mereka akan beradu cepat mengikuti garis lintasan sepanjang 500 meter. Dalam satu hari biasanya diadakan dua pertandingan, dimana kelompok yang menang akan kembali beradu cepat untuk memperebutkan juara. 

Sebelum pertandingan dimulai, saya sempat mengobrol dengan salah satu kelompok peserta perahu naga yang membawa bendera Kecamatan Cibodas. Mereka semua lulusan sekolah pelayaran dan memang benar-benar menyukai olahraga dayung. Walaupun usianya masih bisa dibilang sangat muda, mereka sudah memiliki tenaga yang kuat untuk mendayung bahkan mendapat juara kedua. Giat berlatih, disiplin, dan optimis menjadi kunci keberhasilan mereka. 

Pertandingan 
Sebelum dimulainya pertandingan, sejumlah security boat berkeliling mengecek kondisi Kali Cisadane. Setelah semuanya dirasa aman, barulah para pendayung mulai berjalan menuruni tangga sambil mengambil dayungnya menuju perahu naga. Penonton pun tampak semakin memadati sisi-sisi Kali Cisadane. Setelah semua pendayung menempati posisinya, seorang penabuh genderang akan duduk menghadap mereka. Dialah yang akan memberi komando bagi para pendayung agar mengayuh secara berbarengan. Penabuh genderang ini kadang ada yang tampil nyentrik, ada yang mengenakan kostum khas Tiongkok lengkap dengan topinya, ada yang memakai kacamata hitam, bahkan ada juga yang penabuhnya seorang wanita. Setelah lengkap peserta memutari Kali Cisadane untuk melakukan pemanasan sebelum start. 

Tak lama kemudian, empat naga telah bersiap di garis start untuk membelah Kali Cisadane sejauh 500 meter. Begitu tanda dimulai berbunyi, suara genderang pun semakin kencang dibarengi teriakan semangat para pendayung naga. Percikan air pun turut menyemangati mereka seiring kayuhan dayung yang membawa naga-naga menuju garis finish. 

Naga-naga pun melesat melintasi Kali Cisadane. Mereka berlomba untuk segera mencapai garis finish di dekat jembatan. Alunan genderang dengan gaya-gaya unik penabuhnya memberi semangat kepada para pendayung naga. Hanya dalam hitungan menit, naga-naga pun sudah mencapai garis finish. Lambaian tangan para pendayung pada para penonton menutup lomba ini sembari kembali menuju tangga tepian Kali Cisadane. 

Lomba perahu naga pada perayaan Pe Cun ini sudah mengakar serta menjadi tradisi dan diharapkan mampu menumbuhkan rasa cinta masyarakat terhadap akar kebudayaannya. Perjalanan panjang tradisi, seni, dan budaya adiluhung dengan berbagai nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya ini tetap tertanam di benak warga Kota Tangerang yang setiap tahunnya selalu dinantikan 
Terima kasih telah membaca artikel Festival Cisadane dan Naga-naga Cisadane
Link ke artikel ini: https://www.pakarnusantara.com/2017/02/festival-cisadane-dan-naga-naga-cisadane.html
Jangan lupa untuk membagikan artikel Festival Cisadane dan Naga-naga Cisadane ini jika bermanfaat bagi Sobat.

Ingin pasang artikel atau beriklan? kunjungi halaman ini Pasang Iklan

About Author

Tips & Trik

loading...

Post a Comment Blogger

  1. Hi guys tunggu apalagi cepat gabung bareng kami di indokartu, lagi ada promo Spesial Kemerdekaan & Asian Games 2018 Bonus 2x Chips deposit
    Tunggu apalagi ayo segera kunjungi di INDOKARTU
    atau juga bisa hubungi kami...
    Contact Us :
    BBM : PIN : indkartu
    LINE ID : indokartu
    WECHAT ID : indokartu
    WHATSAPP : +628-129-347-8722

    ReplyDelete

 
Top