Menu

Admin Admin Author
Title: Belajar Sejarah di Museum La Galigo
Author: Admin
Rating 5 of 5 Des:
PAKAR NUSANTARA , MAKASAR - Fort Rotterdam merupakan salah satu tujuan wisata sejarah yang menarik di Makassar, Sulawesi Selatan. Benten...

Artikel Terkait Jalan-jalan , Wawasan

Ingin Punya Toko Online Sendiri? Daftar Sekarang | Lihat Demo

Dapatkan potongan Rp350.000 menginap di AirBnB : 3 Cara Mudah Booking Kamar di AirBnB | Voucher Diskon AirBnB

PAKAR NUSANTARA, MAKASAR - Fort Rotterdam merupakan salah satu tujuan wisata sejarah yang menarik di Makassar, Sulawesi Selatan. Benteng yang menjadi tempat pengasingan Pangeran Diponegoro ini memiliki luas 2,3 hektar dengan bentuk menyerupai penyu. Salah satu peninggalan Kerajaan Gowa ini telah dibangun sejak 1545. Itulah salah satu alasan saya untuk mengunjungi Fort Rotterdam. Disini, ada museum yang menceritakan sejarah Sulawesi Selatan dan menjadi yang wajib dikunjungi. Untuk memasuki Fort Rotterdam sebenarnya tidak dipungut biaya, tetapi untuk masuk Museum La Galigo dikenakan biaya Rp 5.000 (dewasa), Rp 3.000 (anakanak), dan Rp 10.000 (turis asing). 

Nama La Galigo
La Galigo adalah nama salah satu putra Sawerigading Opuna Ware, seorang tokoh masyhur mitologi Bugis. Selain itu, La Galigo juga merupakan nama sebuah karya sastra klasik bahasa Bugis sepanjang 9.000 halaman. Karya ini berisikan cerita, tatanan, dan tuntunan hidup orang Sulawesi Selatan dulu, seperti religi, adat istiadat, ajaran kosmos, sistem perdagangan, tatanan pemerintahan tradisional, serta peristiwa penting yang pernah terjadi.

Kerajaan Gowa

Saya memulai ekplorasi Museum La Galigo dari bagian asal muasal Kerajaan Gowa. Cerita To Manurung, Raja Gowa pertama, yang diyakini turun dari langit ada disini. Silsilah Kerajaan Gowa, termasuk Sultan Hasanuddin di dalamnya, bisa kita telusuri satu per satu. Replika Salokoa (Mahkota Kerajaan Gowa) menambah cantik ruangan ini. Mahkota yang digunakan saat penobatan Raja Gowa ini terbuat dari emas murni, beberapa butiran permata, hingga berlian, dengan bentuk menyerupai kerucut bunga teratai yang memiliki lima helai kelopak daun. Mahkota ini digunakan sejak Raja Gowa pertama, Tumanurunga, pada abad XIII hingga Raja Gowa ke XXXVI. Untuk Salokoa yang asli tersimpan di Museum Balla Lompoa, Sungguminasa, Gowa. Selain itu, di bagian ini juga saya menjumpai peninggalan sejarah, seperti aksara Bugis, Al-Qur’an berusia lebih dari 200 tahun, hingga serta pakaian saudagar Arab yang diyakini pertama kali mengenalkan Islam ke Sulawesi.

BUDAYA BUGIS
Di museum ini juga terdapat berbagai budaya Bugis, seperti baju adat, senjata, hingga singgasana perkawinan. Ada display menarik yang menjelaskan upacara sunatan Bugis. Saat berumur 5 sampai 13 tahun, dilakukan upacara sunatan untuk anak laki-laki dan Makatte (khitanan) bagi anak perempuan. Inilah pertama kalinya anak perempuan memakai baju bodo yang terdiri dari 3, 5, sampai 7 susun, berdasarkan strata sosial. Semua peralatan dan pakaiannya bisa dilihat disini.
Guide di museum pun sempat memberikan penjelasan mengenai baju bodo yang selain memiliki banyak susunan, warna yang dikenakan pun memiliki arti yang berbeda-beda. Jika baju bodo itu berwarna merah berarti untuk gadis, pink yang sudah menikah, kuning untuk janda, hujau/ biru untuk putri, dan warna gelap untuk wanita yang sudah berumur.

Pinisi
Rasanya tidak lengkap berbicara Bugis tanpa ada pinisi. Di Museum La Galigo juga terdapat bagian maritim. Di salah satu sudut ruangan terdapat miniatur pinisi yang cukup besar. Di sampingnya, lukisan ikon kebanggaan masyarakat Bugis yang sedang berlayar melintang dengan gagahnya. Ombak ganas tampak menyapu badan perahu namun layarnya masih tetap terkembang. Lukisan realis ini juga terlihat unik. Saat saya memperhatikannya lebih teliti, arah laju pinisi bisa tampak berbeda-beda. Kadang terlihat sedang berbelok ke kiri, kadang tampak ke kanan. Beberapa teman yang sempat saya tanya ketika memperhatikan lukisan ini pun memiliki jawaban yang berbeda-beda. Sebagian ada yang menjawab berbelok ke kiri, sebagian lagi melihatnya ke kanan. Ya, mungkin itulah keunikan dari lukisan ini. 

Ruangan Lain
Masih banyak ruangan lain yang bisa dijelajahi di Museum La Galigo ini. Ada ruang pra-sejarah, ruang agraris dengan alat-alat tradisional pertanian tradisional Sulsel, ruang tata kota, dan ruang foto orang-orang besar Sulsel termasuk Sultan Hasanuddin. Tidak hanya itu, masih ada ruang senjata yang memamerkan badik, keris, pedang, tombak khas suku besar Sulawesi, senjata api klasik VOC termasuk pistol emas, meriam, hingga bedil. Ada juga ruangan yang sangat bersejarah, yaitu bekas penjara Pangeran Diponegoro. Masih banyak ruangan-ruangan yang kaya akan sejarah di Museum La Galigo. Museum ini bisa menjadi salah satu destinasi wajib bagi yang menyukai sejarah jika berkunjung ke Makassar. Jadi, selamat berekplorasi.

Teks Riman Saputra
Terima kasih telah membaca artikel Belajar Sejarah di Museum La Galigo
Link ke artikel ini: https://www.pakarnusantara.com/2015/08/belajar-sejarah-di-museum-la-galigo.html
Jangan lupa untuk membagikan artikel Belajar Sejarah di Museum La Galigo ini jika bermanfaat bagi Sobat.

Ingin pasang artikel atau beriklan? kunjungi halaman ini Pasang Iklan

About Author

Tips & Trik

loading...

Post a Comment Blogger

  1. Hi guys tunggu apalagi cepat gabung bareng kami di indokartu, lagi ada promo Spesial Kemerdekaan & Asian Games 2018 Bonus 2x Chips deposit
    Tunggu apalagi ayo segera kunjungi di INDOKARTU
    atau juga bisa hubungi kami...
    Contact Us :
    BBM : PIN : indkartu
    LINE ID : indokartu
    WECHAT ID : indokartu
    WHATSAPP : +628-129-347-8722

    ReplyDelete

 
Top